Skip to main content

Di Mana dan Dengan Siapa Gwe Belajar Musik? (Fase 2)

Ini adalah tulisan sambungan dari Fase 1..


Fase 2: Saat Kerja di Jakarta


Pada masa istirahat itu, dari jaman kuliah sampe mulai kerja tetap di Jakarta, hobi kreatif yang Gwe jalanin adalah nulis fiksi. Sampai Gwe nulis blog ini, ada 3 buku yang udah terbit. Hanya saja Gwe ngerasa kurang berhasil di dunia penerbitan (but don’t worry, suatu ketika Gwe bakal come back buat bikin buku fiksi lagi). Karena itu mulai ada keinginan untuk kembali mempelajari musik, sampe-sampe waktu itu Gwe mulai beli berbagai macam peralatan musik, seperti: keyboard controller, audio interface (eksternal soundcard untuk computer), gitar listrik, amply, gitar efek dan vocal efek. Bahkan Gwe les DJ (Disc Jockey) segala, meskipun nggak sampai kelar, karna kurang ngerasa bakat di situ. Untung waktu itu ada cukup duit buat hobi gila Gwe ini.

Keinginan untuk bisa maen musik nggak akan terwujud kalau dibiarkan diam sebagai sebuah keinginan belaka. Maka mulai awal tahun 2010 Gwe mulai les Keyboard di Sekolah Musik Sincere, salah satu Franchise Yamaha di daerah Bungur Besar, Jakarta Pusat. Yang ngajar Gwe namanya mas Doyok. Karena dulu Gwe pernah belajar keyboard maka Gwe ceritain aja basic Gwe. Biarpun begitu, mas Doyok ngewajibin Gwe untuk belajar ulang dari dasar. Apalagi instrument keyboard yang dipake beda (khusunya mereknya, itu mempengaruhi pemrogramannya). Dulu Technics sekarang Yamaha. Jadi Gwe mulai belajar dari dasar lagi, tapi karena udah pernah belajar, jadi agak cepet nangkepnya. Untuk menunjang belajar keyboard itu, maka Gwe beli keyboard yang serupa dengan di tempat les, tapi versi yang sedikit lebih baru. Masih satu turunan tipe. Kalau di tempat les: Yamaha PSR-900 kalau punya Gwe: Yamaha PSR-910s.


Hal yang cukup mengejutkan setelah kenal dan ngobrol ama mas Doyok adalah gwe jadi tahu kalau dia juga make FL Studio. Mas Doyok pake FLS untuk mixing dan memperkaya warna lagu, untuk melengkapi program Digital Audio Workstation (DAW) lain seperti Nuendo atau Cubase. Selain ngajar, dia juga ada proyek-proyek pribadi garapin lagu/musik orang atau ilustrasi musik untuk drama atau hal lain. Jadi mas Doyok lebih suka jadi produser lagu atau musik director. Kalau untuk skill maen keyboard/piano dia udah oke lah, cuman dia kurang begitu suka tampil sebagai player. Mas Doyok lebih suka berada di belakang layar. Satu proyek terbesarnya saat Gwe masih les ama dia adalah, mas Doyok ikut ngegarap album-nya Ditho Brachmantio. Ditho ini adalah seorang remaja yang mengusung musik jazz. Jadi dia nggak milih genre Melayu yang popular saat itu untuk debut-nya. Kata mas Doyok, lagu Ditho sempet masuk dalam Top Ten Chart lagu di radio-radio Jakarta kayak Hard Rock FM, dll, dan beberapa kali manggung. Gwe sempet nonton performnya Ditho di f(X) Mall Jakarta. Waktu itu kebetulan Gwe mo produksi buku ke-3 Gwe, yaitu Boedjang Lapoek Mentjari Tjinta (BLMT), maka Gwe ajak mas Doyok untuk kerjasama ngejadiin lagu Ditho sebagai soundtrack BLMT. Mas Doyok setuju aja, tapi dia kudu minta ijin papanya Ditho dulu, dan Alhamdulillah boleh. Maka kalau kalian beli buku BLMT, ada iklan album lagunya Ditho di halaman terakhir. Sebagai timbal baliknya Gwe dapet free CD yang bisa Gwe jadiin kuis ke pembaca.

Selaen mulai belajar keyboard, Gwe mutusin untuk belajar vocal sekalian. Bukannya kemaruk sih, tapi orientasi Gwe mulai berubah. Gwe mungkin nggak akan jadi artis atau player yang tampil di panggung musik, tapi Gwe pengin jadi composer (pembuat lagu) atau produser musik aja. Karena itu, selaen kudu bisa maen musik, Gwe juga pengin ngasih tahu cara nyanyiin lagu yang Gwe ciptain ke orang yang pengin Gwe bikinin lagunya. Malu dong kalau pembuat lagunya, suaranya fales pas ngasih contoh. Nah, gwe belajar vocal itu di Musicasa, letaknya di kawasan Duta Merlin, Jakarta Pusat. Yang ngajar Gwe dari Indonesia Timur, namanya Rosa, biasa dipanggil Ocha. Di situ Gwe diajarin teknik vokal. Pas latiannya nada, suara dipasin ama piano. Teknis banget deh. Kayaknya di sini belajar vokal lebih diarahkan untuk sebagai semacam penyanyi opera. Gwe pun nggak bertahan lama belajar di sini, selaen karena kurang pede dengan kualitas vocal Gwe yang kayaknya gitu-gitu doang, juga karena mulai sibuk urusan kantor.

Seiring belajar keyboard & vocal, Gwe mulai deket lagi ama FL Studio. Saat itu yang dirilis adalah versi 9. FL Studio 9 itu udah keren banget. Nggak sekedar buat bikin musik elektronik sederhana aja  yang bunyinya cuman tulat-tulit, tapi udah bisa kayak lagu beneran yang biasa didenger orang di radio atau TV, khususnya untuk jenis musik remix. Orang bisa bikin lagu yang mudah dengan Digital Audio Workstation satu ini. Nggak sekedar bikin musiknya, tapi juga ngerekam vocal, ngasih efek dan mixing musiknya. Top abis deh. Ngiler ama kemampuan luar biasa program ini, gwe pun mulai belajar secara otodidak. Gwe mulai beli buku-buku soal FL Studio, donlot tutorial di internet, baca informasi di forum internet, sampai beli CD plugin dan tutorial dari orang di internet. Bahkan Gwe udah mulai bikin naskah buku soal program ini, yang lebih ke pengenalan, bukan teknik ekspert. Iye, Gwe tahu kalau sampai sekarang pun belum pro banget di FL Studio, jadi Gwe berani bikin buku itu lebih kepada berbagi ilmu yang Gwe pelajari, dan Gwe akan terus perdalam program yang keren ini. Sampai sekarang naskah itu belum terbit. Anyone interested? ;)

Di tahun 2010 ini Gwe mulai proses untuk alih tugas dari Jakarta ke Semarang. Alasan utamanya adalah karena kesehatan bokap. Walaupun akhirnya pindah, Gwe masih pengin ngelanjutin belajar musik. Baik untuk dapet ilmu maupun manfaat ekonomi suatu ketika nanti.

Bersambung ke Fase 3...

Bonus:
Berikut adalah video clip dari lagu: Servaria yang Gwe bikin dengan software FL Studio:

URL Youtube = http://www.youtube.com/watch?v=6hMnY8lUeUo

Comments

Popular posts from this blog

Sisi Lain Kebencian! Preview Kamen Rider Gavv episode 38

Episode 38 dari Kamen Rider Gavv diprediksi akan menjadi titik balik emosional dan naratif yang penting, terutama bagi karakter Hanto dan Jeep Stomach. Ketegangan tidak hanya terjadi dalam pertarungan fisik, tetapi juga konflik batin yang mengguncang identitas dan pilihan hidup para karakter utama. 🍡 Toko Manisan dan Kenangan Pahit Shouma (Chinen Hidekazu) dan rekan-rekannya mendapat misi unik dari Happy Pare : menghidupkan kembali sebuah toko manisan tradisional Jepang yang sudah lama vakum. Tampaknya ini akan menjadi selingan ringan dari konflik besar, namun justru menjadi awal dari konfrontasi emosional yang mendalam. Di toko tersebut, mereka bertemu Kenji (Yoshioka Mutsuo), seorang pengrajin wagashi berbakat… yang ternyata adalah Granute , antagonis yang selama ini diburu Hanto karena menculik ibunya. Hanto (Hino Yusuke) yang selama ini menghidupi dirinya dengan semangat balas dendam mendadak goyah, apalagi ketika melihat Kenji mendapat tempat sebagai sosok ayah kedua...

Piramida Terbalik: Cara Jitu Membuat Artikel Menarik

Sebuah artikel yang baik haruslah padat dan informatif. Bukan malah bertele-tele, berputar-putar, atau malah diulang-ulang. Padahal sejak SD, kita sudah diajarkan menulis. Namun untuk bisa membuat tulisan yang terstruktur, menarik, dan enak dibaca memang ada suatu teknik khusus. Dalam dunia kewartaan teknik tersebut dikenal dengan istilah Piramida Terbalik , yang dilengkapi dengan rumus 5W+1H dalam menulis sebuah berita. Apa sih maksudnya? Tentu saja hal ini bukan mengenai suatu bangunan antik dari negeri Mesir, tetapi istilah ini untuk menggambarkan bagaimana cara kita menulis. Kalau Anda melihat piramida, bentuknya mirip dengan segitiga. Bagian atasnya adalah puncak, makin ke bawah makin lebar. Namun kalau piramida atau segitiga ini posisinya kita balik, terlihat bahwa bagian paling atas yang lebar atau luas, terus mengecil ke bawah menjadi titik runcing. Serupa dengan bentuk segitiga terbalik tersebut, suatu artikel akan lebih terstruktur apabila di bagian awal atau ...

Membalikkan Keadaan: Master Gavv! Preview Kamen Rider Gavv episode 36

Episode 36 dari Kamen Rider Gavv menjanjikan sebuah ledakan emosi dan aksi yang memuncak ketika strategi jahat Rango (Tsukamoto Takashi) mencapai tahap baru yang mencengangkan. Dalam semalam, ia memicu insiden penghilangan massal —tanda bahwa kekacauan sudah mencapai titik kritis. Tiga pahlawan kita, Shoma (Chinen Hidekazu), Hanto (Hino Yusuke), dan Rakia (Shoji Kohei), akhirnya berhadapan langsung dengan Rango. Meski telah mengandalkan kekuatan Overgavv hasil modifikasi dengan Gochipod , mereka harus menerima kenyataan pahit: Rango masih berada jauh di atas angin. Pertempuran brutal itu berakhir dengan kekalahan telak di pihak para Rider. Namun, alih-alih patah semangat, kekalahan ini justru menjadi titik balik. Ketiganya bersiap kembali dengan strategi baru. Tapi waktu tak banyak. Rango telah memilih target berikutnya— sebuah konser live , tempat ribuan orang berkumpul, termasuk Ritsuko (Tanaka Riko), teman baik Sachika (Miyabe Nozomi). Melihat bahaya yang akan datang, Shoma m...