Piramida Terbalik: Cara Jitu Membuat Artikel Menarik

Sebuah artikel yang baik haruslah padat dan informatif. Bukan malah bertele-tele, berputar-putar, atau malah diulang-ulang. Padahal sejak SD, kita sudah diajarkan menulis. Namun untuk bisa membuat tulisan yang terstruktur, menarik, dan enak dibaca memang ada suatu teknik khusus. Dalam dunia kewartaan teknik tersebut dikenal dengan istilah Piramida Terbalik, yang dilengkapi dengan rumus 5W+1H dalam menulis sebuah berita.


Apa sih maksudnya? Tentu saja hal ini bukan mengenai suatu bangunan antik dari negeri Mesir, tetapi istilah ini untuk menggambarkan bagaimana cara kita menulis. Kalau Anda melihat piramida, bentuknya mirip dengan segitiga. Bagian atasnya adalah puncak, makin ke bawah makin lebar. Namun kalau piramida atau segitiga ini posisinya kita balik, terlihat bahwa bagian paling atas yang lebar atau luas, terus mengecil ke bawah menjadi titik runcing. Serupa dengan bentuk segitiga terbalik tersebut, suatu artikel akan lebih terstruktur apabila di bagian awal atau "lead" membahas hal yang paling penting, atau yang menjadi fokus utama terlebih dahulu. Kepala berita umumnya menyajikan bentuk atau jenis peristiwa (what), tempat (where), waktu (when) dan siapa yang terlibat (who). Data-data penting menyusul pada alinea-alinea selanjutnya, dengan menyajikan informasi lebih terperinci yang mengandung aspek kenapa (why) dan bagaimana (how). Kemudian bagian terakhir adalah penjelasan tambahan (complementer) guna memerkuat informasi pada paragraf-paragraf sebelumnya. Namun, paragraf penutup tidak selalu bermakna kesimpulan. Berikut adalah contok tulisan dengan mempraktekkan teknik Piramida Terbalik:


Menteri Perhubungan Ignatius Jonan menyerukan PNS dalam jajarannya untuk dapat masuk kerja pada Hari Sabtu dan Minggu dengan menerapkan jadwal piket. Pernyataan tersebut disampaikan Menhub dalam rapat pimpinan di kantor Kemenhub, Jakarta, Selasa, 28 Oktober 2014. Jadwal piket PNS itu pada dua hari libur itu terutama berlaku di sejumlah pos penting yang tidak bisa ditinggalkan, terutama yang terkait dengan pelayanan publik.

Bila kita menganalisis contoh di atas, WHO merujuk pada Menteri Perhubungan Ignatius Jonan. WHAT berupa seruan pada PNS dalam jajarannya untuk dapat masuk kerja pada Hari Sabtu dan Minggu dengan menerapkan jadwal piket. WHERE dikatakan di kantor Kemenhub, Jakarta. WHEN pada hari Selasa, 28 Oktober 2014. WHY karena adanya sejumlah pos penting yang tidak bisa ditinggalkan, terutama yang terkait dengan pelayanan publik.


Selain itu, dalam menulis artikel, haruslah diutamakan netralitas. Bedakan antara fakta dan opini. Jangan dicampur aduk. Lebih baik menempatkan fakta pada bagian terdepan dan dilanjutkan dengan penafsiran atau opini. Suatu tulisan juga akan menjadi lebih menarik apabila membahas suatu hal yang baru, atau menyangkut hajat hidup orang banyak. Menceritakan peristiwa seremonial seperti upacara atau penyelenggaraan sosialisasi adalah sesuatu yang biasa. Namun, pernyataan pejabat atau pembicara mengenai suatu kebijakan akan lebih menarik perhatian pembaca.

Comments

Popular posts from this blog

Tutorial Cara Menghubungkan Keyboard Musik dengan Komputer

Film Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno Bahasa Indonesia

Membantu Operasi Kaki Kucing