Skip to main content

Ngerintis Studio Rekaman Pribadi 2


 
“Musical Autodidact Series” Part 3

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya soal Ngerintis Studio Rekaman Pribadi atau “Musical Autodidact Series” Part 1.  Alat atau instrument apa aja yang sekiranya diperlukan untuk bikin studio rekaman pribadi udah pernah Gwe bahas di sini.

Tulisan kali ini adalah kelanjutannya, yaitu lebih ke sejauh mana Gwe ngegunain alat yang pada tulisan sebelumnya baru pada tahap persiapan/belum lengkap; dan masalah atau keadaan yang nggak terduga setelah Gwe terjun memanfaatkan sistem Studio Rekaman Pribadi ini.

Jadi, pada perkembangannya Gwe punya dua paket alat yang bisa digunakan sebagai studio rekaman pribadi. Paket 1 ada di rumah ortu, dan Paket 2 ada di tempat Gwe sehari-hari tinggal. Komponen Paket 1 (lebih lengkap/variatif) diantaranya adalah: Komputer Dekstop, Audio Interface, Keyboard Arranger, Mic Analog, Gitar Listrik, Speaker Aktif dan dilengkapi dengan software Digital Audio Workstation (DAW): Pro Tools dan FL Studio. Sedangkan komponen Paket 2 terdiri dari: Laptop, Mic USB, Keyboard Controller, Speaker Aktif dan juga dilengkapi dengan software DAW: FL Studio dan Pro Tools.

Kedua sistem ini kalau mau dimanfaatkan sebagai studio rekaman pribadi atau rumahan, sebenernya udah cukup. Namun ada satu masalah utama, yaitu soal input vocal. Memang Mic sudah ada untuk kedua sistem ini, namun input suara/sound sejatinya membutuhkan kejernihan/kemurnian suara. Padahal kalau kita hidup di lingkungan umum, banyak sekali suara-suara yang muncul yang sebenarnya tidak dibutuhkan untuk kita masukkan dalam rekaman. Entah itu suara motor lewat, suara aktivitas orang nyuci baju, suara anak-anak bermain, dll. Nah, karena itu untuk dapat membuat suatu studio rekaman yang bagus perlu adanya ruangan khusus yang tidak terganggu suara-suara dari luar. Kalau perlu ruangan itu harus kedap suara. Hal ini akan menjadi masalah kalau ruangan yang kita miliki terbatas. Memang selama ini, kalau Gwe ngerekam, masih cukup aman. Input dari Mic cukup bisa mem-filter atau membatasi suara yang tidak perlu untuk direkam. Namun kalau mau mendapatkan hasil yang perfect, pemilihan ruangan yang kedap suara tentu perlu dilakukan.

Selanjutnya untuk pemilihan software recording. Untuk keperluan recording music/lagu sebenarnya lebih enak/mudah pake DAW semacam Pro Tools (varian lainnya: Cubase, Nuendo, Pre Sonus), namun harga belinya cukup tinggi. Bahkan Pro Tools menggunakan sistem pengamanan, dimana program baru dapat diaktifkan kalau terkoneksi dengan instrument/hardware buatan M-Audio (kalau untuk aplikasi lain Gwe belum nyoba). Jadi, untuk sementara orang bisa coba pake program FL Studio, karena versi demo-nya dapat di-download secara gratis dan programnya bisa diaktifkan dengan fungsi yang terbatas (versi Full-nya dengan berbagai paket tentu saja juga harus berbayar). Jadi lebih banyak orang yang bisa menjajal program ini.

Selain kedua hal ini, hal berikutnya adalah soal skill. Pertama skill dalam menggunakan instrument musik (kalau paham penggunaan keyboard/piano akan lebih baik, karena program DAW banyak berinteraksi dengan keyboard/piano), dan yang kedua adalah skill penggunaan aplikasi studio rekaman pribadi. Kedua skill ini harus dilatih dan dikuasai agar dapat menghasilkan rekaman musik/lagu yang enak untuk dinikmati.

Pada prakteknya, karena kesibukkan kerja dan hal laen, Gwe emang belum banyak berkarya dengan sistem Studio Rekaman Pribadi. Namun di tempat Gwe belajar musik IT, yaitu di Sekolah Musik Purnomo, Semarang dengan pengajarnya, mas Alex, sistem ini sudah dimanfaatkan. Ada sejumlah penggemar musik yang meminta bantuan mas Alex untuk merekam lagu ciptaannya. Baik dia bermain musik sendiri, ataupun dibantu aransemennya oleh mas Alex. Dan hasilnya? Menurut Gwe cukup layak bersaing dengan hasil rekaman di studio professional yang butuh biaya lebih tinggi. Gwe juga udah bikin rekaman 1 (satu) lagu di sana yang Gwe beri judul: Havnt’ Luv U, Nyet! Selain untuk rekaman lagu, bisa juga sistem ini dimanfaatkan untuk rekaman drama atau hal lain. Tapi sayang, sementara belum bisa Gwe share contoh hasilnya. Nanti suatu ketika ya kita bisa berbagi...

Sementara, nikmatin dulu aja album Lagu Digital yozar.remixer yang ke-2: 2nd BasyiK. Silakan download di sini:

http://www.4shared.com/file/NhZQkI4y/yozarremixer_-_2nd_BAsyik.html

http://www.mediafire.com/?i26i0o26lzds361

Comments

Popular posts from this blog

Piramida Terbalik: Cara Jitu Membuat Artikel Menarik

Sebuah artikel yang baik haruslah padat dan informatif. Bukan malah bertele-tele, berputar-putar, atau malah diulang-ulang. Padahal sejak SD, kita sudah diajarkan menulis. Namun untuk bisa membuat tulisan yang terstruktur, menarik, dan enak dibaca memang ada suatu teknik khusus. Dalam dunia kewartaan teknik tersebut dikenal dengan istilah Piramida Terbalik , yang dilengkapi dengan rumus 5W+1H dalam menulis sebuah berita. Apa sih maksudnya? Tentu saja hal ini bukan mengenai suatu bangunan antik dari negeri Mesir, tetapi istilah ini untuk menggambarkan bagaimana cara kita menulis. Kalau Anda melihat piramida, bentuknya mirip dengan segitiga. Bagian atasnya adalah puncak, makin ke bawah makin lebar. Namun kalau piramida atau segitiga ini posisinya kita balik, terlihat bahwa bagian paling atas yang lebar atau luas, terus mengecil ke bawah menjadi titik runcing. Serupa dengan bentuk segitiga terbalik tersebut, suatu artikel akan lebih terstruktur apabila di bagian awal atau ...

Apakah Penghasilan dari Profesi Penulis Bisa untuk Hidup di Indonesia?

Sewaktu kuliah di program studi S1 Sastra Inggris sekitar 20 tahun lebih yang lalu, saya sempat ingin bekerja dan hidup sebagai penulis. Artinya saya berharap mendapat penghasilan yang layak dengan menjadi penulis, khususnya untuk karya fiksi. Secara konkretnya yaitu membuat novel. Saat itu iklim perbukuan cetak di Indonesia masih cukup baik. Orang masih banyak yang mau membeli buku, meskipun internet mulai menjadi budaya di masyarakat. Namun saat itu saya masih dalam fase belajar. Tak satupun naskah saya diterima penerbit mayor. Maka itulah kenapa saya akhirnya bersikap realistis dengan melamar kerja sebagai karyawan. Kesempatan naskah saya terbit akhirnya datang setelah saya bekerja sebagai karyawan. Namun dari penjualan novel/buku saya, ternyata hasilnya kurang menggembirakan. Memang ada royalti, tapi tidak terlalu banyak. Hanya sekedarnya buat jajan. Seolah bahwa penghasilan dari menulis hanyalah sambilan. Padahal pada kenyataannya, untuk menghasilkan suatu karya yang menarik, butu...

Preview Episode 08 – Kamen Rider Zeztz

Pendahuluan Serial Kamen Rider Zeztz, yang dikenal sebagai bagian dari waralaba tokusatsu Kamen Rider Series, mengusung tema “mimpi sebagai misi” di mana sang protagonis Baku Yorozu (diperankan oleh Ryutaro Imai) memasuki dunia mimpi sebagai agen rahasia untuk melawan makhluk yang disebut Nightmares. ( Kamen Rider Wiki ) Untuk Episode 08 (judul Jepang: Case8: Entertain/饗(もてな)す , Motenasu) — seperti tercatat di daftar episode resmi. ( Kamen Rider Wiki ) Dalam preview-nya, muncul sebuah lokasi baru yang menarik: sebuah restoran klasik bernama Royal Jōkin , yang telah berusia seabad, dan menjadi pusat dari konflik cerita kali ini—bercampur antara tradisi kuliner dan ancaman senjata biologis. Berikut adalah ulasan lengkap preview Episode 08: latar cerita, poin kunci konflik, karakter yang terlibat, serta beberapa spekulasi dan hal yang layak diperhatikan. 1. Latar Cerita & Konflik Utama Royal Jōkin adalah restoran yang sudah berusia sekitar satu abad – sebuah warisan kuliner yang...