Mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman Aceh

Sepanjang Gwe kerja, baru kali ini berkesempatan tugas ke ujung Barat negeri ini. Dalam perjalanan singkat kemarin, 18-19 November 2018, Alhamdulillah Gwe sempet mampir ke Masjid Baiturrahman yang terletak di ibukota Provinsi Banda Aceh pada Minggu sorenya.
.
Gwe ke sananya pas udah sore, sekitar jam 17. Letaknya relatif deket dengan tempat Gwe nginep, yaitu di Hotel Kyriad. Sebelum ke sini, Gwe ke Museum Tsunami Aceh dulu naik Gojek sekitar 1-2 Km. Karena menurut info di Google museum tutup jam 17, jadi ke masjid nya abis itu aja menjelang Maghrib. Eh ternyata kenyataannya jam kerja museum cuman sampai jam 16.
.
Dari Museum Tsunami Aceh, karena liat tujuan di Map ga nyampe satu kilo, Gwe pun berjalan kaki. Di tengah perjalanan sempet mampir kaki lima pinggir jalan beli sate kentang ulir goreng bermerek Kentang Spiral. Letaknya sekitar seberang Taman Sari Kota Banda Aceh. Abis makan dan beli minum teh di warung deket situ, Gwe pun melanjutkan perjalanan.
.
Di ujung jalan ada lampu merah dan Gwe pun menyeberang. Di pintu masuk, Gwe melihat ada peringatan: Memasuki Kawasan Wajib Berbusana Muslim/Muslimah. Lalu di bagian dalam ada Tata Cara Masuk ke Area Masjid Raya, diantaranya untuk pria tidak boleh memakai celana pendek, merokok, dan dilarang berduaan dengan yang bukan muhrim. Sedangkan untuk wanita, dilarang memakai pakaian ketat. 
.
Ngomong-ngomong soal busana, Gwe tadinya mengira kalau di Aceh wajib pakai baju muslim/muslimah. Namun pas naik pesawat ke Aceh, pramugarinya ternyata memakai penutup kepala yang tidak sempurna, alias kerudung longgar dengan rambut masih kelihatan, sedangkan belahan di betis masih terlihat. Jadi ternyata ga ketat juga soal berbusana di sini. Hal tersebut dikonfirmasi juga oleh supir taxi yang Gwe ajak ngobrol. Intinya sih masyarakat dihimbau berbusana sopan. Untuk wajibnya di area tertentu semisal di Masjid. Kalau di tempat umum masih bisa dimaklumi, termasuk tamu. Dia pun bilang beberapa waktu lalu ada turis dari Asia Timur, entah itu Korea atau Jepang yang memakai celana pendek, dan dibiarkan.
.
Sebelum memasuki Plaza yang lantainya terbuat dari marmer, Gwe menitipkan sepatu dan minuman teh dalam botol plastik ke tempat penitipan dekat situ. Aturan lain di area Plaza adalah tidak Makan Minum dan Berjualan. Selain itu, alas kaki harus dilepas.
.
Sekilas bangunan masjid Aceh ini mengingatkan kita pada Masjid Nabawi di Madinah. Mirip. Di sini juga terdapat tiang-tiang payung, yang mulai menutup menjelang senja. Menara ada di ujung timur halaman Masjid. Di halaman depan terdapat taman yang mulai memancarkan air mancur menjelang sore. Di kolam, sumber air mancur, dihiasi lampu. Sungguh indah. Padahal hari Senin ya, ternyata banyak juga yang menikmati sore hari di tempat ini. Tua, muda, keluarga. Semuanya nampak antusias dan gembira. Banyak juga selfie atau foto bersama. Orangtua duduk-duduk, anak-anak bermain. 
.
Konon kabarnya bangunan ini termasuk yang selamat saat terjadinya bencana tsunami Aceh tahun 2004. Info dari supir taxi dari mobil yang Gwe naiki saat menuju hotel, genangan air di pusat kota mencapai 2-3 meter. Meskipun menurut Gwe udah termasuk dalam, menurut sang supir, itu tidak sebanding dengan tsunami yang mencapi 20 meter. Bahkan lebih kalau menurut media online. Dilansir dari Wikipedia, gelombang tsunami Samudra Hindia yang diawali gempa bumi ini, mencapai 30 meter dan menewaskan 230-280rb jiwa di 14 negara dan menenggelamkan sejumlah permukiman pesisir. Indonesia merupakan negara yang dampaknya paling parah, selain Sri Lanka, India & Thailand. Banyak orang Aceh yang kehilangan sebagian atau seluruh keluarga intinya saat itu.
.
Hari semakin gelap. Gwe pun bersiap-siap untuk wudlu. Tempat wudlu dan toilet ada di bawah tanah. Ada pintu masuk dengan undakan di beberapa titik. Gwe amati, di sekitar inilah tempat parkir motor dan mobil. Dinding ruang bawah tanah juga dipercantik dengan marmer. Bahkan marmer juga menghiasi kamar mandi, sampai di kamar toilet/wc. Bilik toilet terbagi atas WC Jongkok, WC duduk dan Kamar Mandi. Bersih dan cantik.
.
Memasuki bangunan utama, lantai marmer masih nampak terhampar luas. Ada banyak tiang pancang di dalam bangunan, di sebagiannya terdapat televisi layar datar yang ditutupi kain. Mungkin baru dibuka dan digunakan di acara-acara tertentu saja. Sejumlah kitab ada juga di beberapa titik tiang pancang. Sejumlah lampu gantung ada di beberapa titik. Ada pembatas dari kayu dengan tinggi rendah, untuk memisahkan tempat sholat wanita. Terdapat 4 shaf sajadah merah di barisan paling depan. Sementara untuk jamaah pria terdapat enam shaf sajadah warna apa ya, susah menyebutnya, semacam kelabu tapi agak hijau biru, di baris terdepan. Yang khas dari tempat sholat imam, di belakangnya ada sejumlah papan nama bertuliskan: Qari, Penceramah, Imam Pengganti, Muazzin Penganti, Muazzin, dan Operator. Di depan sajadah imam yang berwarna ungu dengan bingkai ornamen warna cokelat, terdapat sebuah meja kayu kecil, mirip dingklik. Di ujung depan imam terdapat televisi layar datar dan di dindingnya terdapat empat lempengan ornamen warna emas, dengan tulisan Arab. Di dekat situ juga terdapat mimbar.
.
Usai sholat Maghrib berjamaah, Gwe bermaksud pulang, karena mau dampingi bos dalam acara Gala Dinner. Namun ternyata di luar hujan. Sembari menunggu, Gwe sempet mendengarkan tausiyah/kultum. Gwe kurang begitu ngeh apakah yang memberi tausiyah Imam sholat atau Ustadz lain. Mungkin di Masjid Raya ini kebiasaannya setelah sholat Maghrib ada tausiyah sampai datangnya waktu sholat Isya.
.
Gwe tadinya berharap bisa mampir lagi ke Masjid ini setelah acara hari Senin. Namun nggak tahunya kegiatan cukup padat, dan rombongan pengin langsung ke Bandara. Gwe juga belum sempet ke Sabang dan melihat nol kilometer Indonesia. Yah, mungkin lain kali kalau ada kesempatan lagi, dan mudah-mudahan Aceh selalu aman. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

Tutorial Cara Menghubungkan Keyboard Musik dengan Komputer

Film Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno Bahasa Indonesia

Membantu Operasi Kaki Kucing