Film Wiro Sableng 212, Miskin Komedi, Kaya Aksi

Copyright: 21Cineplex.com
Sebelumnya Gwe peringatin jangan dibaca buat yang nggak mau spoiler atau belum nonton filmnya!
.
Selain dari memerhatikan judulnya, ketika ngelihat teaser film Wiro Sableng yang menunjukkan karakter “Dewa Tuak” menyatakan bahwa “Gurunya Gendheng, Muridnya Sableng!” bikin Gwe berharap film eksyen jagoan ini banyak komedinya. Tapi nyatanya Gwe salah. 
.
Film Wiro Sableng emang udah agak lama dirilis, yaitu akhir Agustus 2018, namun Gwe baru berkesempatan nonton kemaren Rabu, 19 September 2018, dan bukan di Semarang melainkan di XXI Plaza Atrium Senen, Jakarta. Kebetulan kan Gwe lagi ada tugas mendampingi wisuda terpadu taruna PIP Semarang. Ada satu hari luang Gwe manfaatin buat service lensa kamera yang error di Pasar Baru, lanjut nonton film bareng temen kantor, pak Samsul. 
.
Film tayang jam 15:20, dan Gwe telat dikit, namun gak mengurangi pengetahuan film.  Cerita dibuka mengenai asal mula Wiro menjadi murid pendekar wanita Sinto Gendheng. Wiro berhasil diselamatkan oleh Sinto Gendheng dari Mahesa Birawa, seketika setelah pria itu membunuh orangtua Wiro, dan membakar rumah mereka.
.
Tone cerita di awal kalem, tentang bagaimana Wiro digembleng gurunya, hingga akhirnya dia dianggap sudah cukup mumpuni dan layak dilepas ke dunia luar. Sinto Gendheng meminta Wiro untuk menangkap Mahesa Birawa, yang ternyata adalah muridnya yang berkhianat. Gwe berharap di sini akan banyak dialog gokil antara Wiro dan gurunya, namun ternyata enggak. Mereka emang sempet ketawa-ketawa, tapi bukan yang lucu asyik gitu.
.
Dalam adegan-adegan selanjutnya pun Gwe kesulitan menemukan unsur komedi di film ini. Santiko alias Bujang Gila Tapak Sakti, sidekick-nya si Wiro yang dikenalnya saat menyelamatkan Putri Rara Murni, mungkin disiapkan untuk menjadi karakter komedik. Dia kadang kentut dan jadi lawan bertengkarnya Wiro. Kalau begini, paling jauh bikin Gwe senyum, alih-alih ketawa ngakak. Pengarang komik Wiro Sableng, Bastian Tito sempet muncul juga sebagai cameo. Mungkin biar lucu, tapi buat yang ga begitu kenal dia, jadi terasa agak garing, tapi saat Stan Lee muncul di film-film Marvel sebenernya garing juga sih.
.
Di sisi lain, aksi perkelahian di film ini cukup seru. Dari awal saat orangtua Wiro harus berkelahi dengan Mahesa Birawa, penonton sudah disuguhi adegan silat yang ciamik. Gerakan dan jurus-jurusnya cukup variatif. Konsistensi gerakkan bahwa Wiro dan Mahesa adalah satu guru, bisa dipertahankan. Penggunaan senjata maupun properti lain untuk membantu bertarung cukup aplikatif. Hanya saja ada kurangnya juga. 
.
Mungkin karena udah terbiasa nonton film Hollywood, Gwe lihat tidak terjadi keseragaman kemenangan pada salah satu pihak. Kalau di film barat, lakon kalah, umumnya kalah semua. Sebaliknya saat antagonis kalah, ya bareng juga. Namun di film ini ada satu waktu, Raja Kamandaka menang melawan musuh, namun di saat bersamaan Wiro kalah dari Mahesa Birawa. Karena itu harus ada tambahan waktu untuk mereka bertarung lagi. Selain itu ada juga adegan dimana Wiro kehilangan kapaknya, entah gimana caranya kok ngga ada di tempat penyimpanannya di balik baju Wiro. Kurang masuk akal ilangnya. Trus kapak itu tiba-tiba bisa muncul lagi saat Wiro lagi semangat-semangatnya bertarung.
.
Yah, walaupun ada sejumlah kekurangan di film ini, secara keseluruhan Gwe cukup terhibur. Secara sinematik, setting cerita maupun CGI-nya cukup memanjakan mata. Adegan bertarungnya pun oke. Hanya saja, Gwe berharap, semisal ada film lanjutannya, penulis atau tim skenario bisa memperbanyak adegan dan dialog yang cerdas namun lucu. Selain itu, perlu juga membuat semacam alur cerita tiga babak, ada pengenalan, klimaks dan resolusi. Bisa dirapikan lagi kapan para jagoan kita kalah, kapan akan bangkit dan menang. 
.
Bagaimanapun Gwe ucapkan selamat atas dirilisnya film Wiro Sableng, Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Kita belum banyak punya fim tentang superhero lokal Indonesia yang khas dan cukup membanggakan. Film ini laksana oase untuk memenuhi kebutuhan film eksyen karya anak negeri. Mungkin inilah titik kebangkitan film superhero Indonesia.

Comments

  1. Jauh amat bang nonton filmnya sampai Jakarta. Aku nggak begitu suka film yang genrenya kayak gini. Lebih suka yang genre film genre romance comedy.

    ReplyDelete
  2. Kebetulan aja pas lagi dinas dan ada waktu luang kok mba, haha..
    Saya lumayan suka cerita tema superhero. Nonton film lokal itung-itung ikut mendukung karya anak negeri :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tutorial Cara Menghubungkan Keyboard Musik dengan Komputer

Film Rurouni Kenshin: Kyoto Inferno Bahasa Indonesia

Membantu Operasi Kaki Kucing